Banyak Pondok Pesantren di negeri ini, yang usianya lebih tua dari usia kemerdekaan Indonesia. Peran mereka dalam mencerdaskan umat dan bangsa tidak bisa dipandang sebelah mata. Pondok Pesantren Condong salah satunya. Syahrul Zaky Romadhoni, anak milenial yang juga generasi ke 8 dari pendiri pesantren yang berlokasi di Tasikmalaya Jawa Barat ini mantab berkhidmah untuk Pondok.
Pendirian Pesantren Condong bermula dari wakaf Pangeran Kornel, Bupati Semedang yang hidup antara tahun 1762-1828. Tahun 1864, lokasi Pondok saat itu masuk dalam jalur pembangunan rel kereta api pada zaman kolonial Belanda dan direlokasi ke Tasikmalaya. Berdasarkan fakta sejarah tersebut, pendirian Pondok dicatat secara formal berdasarkan pembangunan rel kereta api pertama di Pulau Jawa tersebut.
Awalnya, Pesantren Condong fokus pada kajian kitab kuning yang biasa diterapkan di pondok pesantren tradisional (salafiyah). Kemudian di 2001, bertransformasi dengan mengintegrasikan kurikulum KMI Pondok Modern Gontor dan kurikulum nasional (SMP & SMA) dalam sistem pembelajaran. Hingga saat ini sekitar 3,500 santri menimba ilmu di pondok ini dari mulai MI, SMP, SMA dan perguruan tinggi.
Berbeda dengan generasi milenial pada umumnya yang mengejar karir di berbagai instansi dan entitas bisnis. Sebagai generasi ke 8 dari keluarga pendiri Pesantren. Syahrul merasa punya tanggung jawab moral untuk melanjutkan perjuangan keluarga. Baginya, bekal #SantriValues yang telah dipelajari selama nyantri di Gontor menjadi bekal untuk khidmah di Pesantren Condong.
“Terlepas dari saya bagian dari keluarga pendiri Pesantren Condong, bagi saya berkhidmah di pesantren sudah menjadi passion saya. Selain mengajar, saya juga mengelola media internal dan media eksternal Pesantren yang berbasis digital. Harapannya dengan media ini, public awareness tentang Pesantren semakin terdeliver serta sebagai media dakwah untuk mensyiarkan #SantriValues yang ada di Pesantren ke seluruh dunia,” jelas Syahrul Zaki Romadhoni, Pengasuh Pesantren Condong Tasimalayan
Bagi Syahrul, mengamalkan ilmu di manapun berada, bahkan meski itu di surau kecil adalah #SantriValues yang ia pegang sejak nyantri di Gontor. Nilai ini memotivasi doi untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki. Apalagi dari kecil doi suka baca buku soal social movement yang intinya kunci menuju Indonesia Emas 2045 ada pada pendidikan. Dan pendidikan di pesantren adalah bidang strategis untuk membawa perubahan dan perbaikan bagi umat dan bangsa.
“Ada tiga #SantriValues sangat membekas selama nyantri di Gontor adalah soal kerja keras (mujahadah), kerja ikhlas (lillahi ta’ala), dan kerja cerdas (kreatif dan inovatif). Kerja keras itu menggunakan semua sumber daya untuk mendapatkan hasil maksimal. Kerja ikhlas merujuk pada kerja karena Allah, kalo dapet reward duniawi itu bonus saja, bukan tujuan utama. Kerja cerdas merujuk pada kerja kreatif dan inovatif, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan produktivitas pekerjaan,” jelas pria berkacamata ini.
Baginya, Santri itu itu identik dengan pengabdian (khidmah), harus senantiasa bermanfaat dimanapun berada apapun profesi dan peran hidupnya. Tidak boleh hidup hanya untuk dirinya. Santri harus bergerak, juga menggerakkan. Harus baik, tapi juga memperbaiki. Tekadnya doi ingin terus berkhidmah untuk membawa kemajuan di pesantren dan masyarakat. Dengan proyek-proyeknya yang inovatif, ia berharap dapat menjadi katalisator perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.